APLIKASI GUNUNG HUTAN
Oleh. Ahmad Ivan (LAMTUR)
Rabu, 07 Februari 2018
Pada pukul 19.00, saya sebagai peserta dan 4 peserta
Lainnya
(dina,fadil,rofikoh,siska) melakukan persiapan perlengkapan untuk melakukan
DIKJUD APLIKASI GUNUNG HUTAN. Sebelum berangkat kami wajib di karantina atau hari sebelum
keberangkatan.
Kamis, 8
Februari 2018
Pada hari kamis pagi kami melakukan persiapan ulang, soal barang
yang akan dibutuhkan di Gunung Raung dan disusul dengan upacara pemberangkatan
serta sarapan bersama panitia (Imam Baihacki) dan peserta di kesekretariatan
Organisasi Pecinta Alam HIMACITA IKIP PGRI jember. Pada hari kamis pukul 07.00
kami upacara pemberangkatan peserta dan panitia di ruang AULA kampus IKIP PGRI
jember hinggga selesai. Pukul 08.00 kita berangkat menuju Gunung Raung untuk
melaksanakan kegiatan kami yaitu DIKJUD disepanjang perjalanan kami kepanasan
karna kendaraan yang kita naiki adalah (Pick Up) kami pun selalu ceria dengan
canda tawa dan di perjalan tiba-tiba mbak rizkia meminta berhenti karna mbak
rizkia mual ingin muntah itupun si supir pick up mas ridwan berhenti dan mbak
rizkia pun bergegas turun muntah-muntah di pinggir jalan yang dikekelingi
persawahan,setelah itu kami pun melanjutkan perjalanan untuk menuju raung kami
masih terus berjalan hingga berhenti di pom bensin untuk mengisi bahan bakar
dan kebetualan sekali di tempat pom bensin itu ada Alfamart yang berdempetan
dengan pom bensin setelah mengisi bensin mas ridwan melanjutkan perjalanan tiba-tiba
mbak suci dan mbak rizkia ketinggalan agak jauh di karenakan mas ridwan
memarkir mobilnya terlalu jauh kami masih menunggu mereka agak cukup lama
stelah mereka keluar dari Alfamart mereka masih jalan kaki sekitaran 50m dari
kita, setelah itu kami melanjutkan perjalanan kembali di perjalanan fadil dan
rofikoh berdiri dia mereka bilang asik berdiri dari pada duduk mas tukul tidur
hingga ke pos buk endang sampai di buk endang ada sebagian orang untuk
mengurusi perijinan pendakian selesai itu kami berangkat menuju pak ir di
perjalanan kami bertemu anak-anak SD yang pulang sekolah dan ada yang menyakan
sambil mengurak kita si anak itu bilang mau ke raung lek kami iya kami mengajak
anak itu dengan becanda kami bilang ayok kalok mau ikut si anak itu bilang
enjek lek dan ada lagi anak SD yang mengejar kita sambil tertawa dan kami
tersenyum pada anak itu hingga kami sampai di pos pendakian Pak Ir untuk
mengisi air ada yang cuci muka ada yang buang air kecil mas ridwan
berbincang-bincang dengan pangepul singkong bertukar pendapat masalah harga
singkong kami semua selesai mengisi air bergegas kembali menuju pondok motor
tiba-tiba jalan tidak mendukung jalannya rusak hingga kami melanjutkan
perjalanan dengan pendakian turun dari pick up kita berdoa setelah itu mas
ridwan berbalik arah menuju pulang ke kota dan kami melanjutkan pendakian untuk
kegiaatan dari pendamping kami ada dua orang berangkat untuk memasang tanda
atau MARKA mbak rizkia juga berjalan sangat cepat saya pun mengejar mereka
bersama dina tapi kita tidak kuat karna mereka sangat cepat saya sama dina
berhenti-henti sejenak untuk memulihkan nafas, teman-teman yang lain masih
dibelakang saya sama dina masih terus berjalan hingga berhenti kembali dan
bertemu seoarang petani kopi yang sedang membawa kayu saya mengajak ngobrol
bapak itu dan dina menanyakan bunga merah yang indah ke pada bapak itu tetapi
bapak itu tidak tau juga apa nama bunga itu karna saya sama dina terlalu lama
beristirahat kita di susul oleh mbak rizkia karna kita pas di panggil tidak
menjawab setelah itu saya berjalan bersama mbak berdua dan dina masih menunggu
yang lain dibelakang dan ada truck lewat kita ke bahu jalan untuk menjauhinya
berjalan lagi karna jalan menanjak saya bersama mbak rizkia berhenti di pohon
roboh yang besar dan teman-teman yang di belakang mulai kelihatan mbak rizkia
mengajak saya melanjutkan perjalanan kembali saya tertinggal sendirian namun
saya masih tetap berjalan berhenti sendirian menunggu teman-teman yang lain
dibelakang mereka pun datang dengan jarak 20m dengan saya siska pingsan sambil
menunggu siska sadar saya melepas kaki palsu yang sering saya sebut
mobil-mobilan saya menendang-nendangkan ke fadil hingga dia tertawa
terbahak-bahak mas rohim menyusul mbak rizkia untuk mengambil oxygen setelah
siska sadar kita melanjutkan perjalan kembali menuju pondok motor kami hampir
salah jalan namun ada bapak-bapak memanggil bahwa jalan yang kita lewati salah
kami turun sekitar 5m dan menuju ke bapak-bapak yang memanggil kita itu
jalannya sangat ekstrim hingga saya terjatuh sampai dipondok bapak-bapak itu
saya pun beristirahat bersama dina dan tiga pendamping lainnya sisanya masih di
belakang kaki palsu saya kembali lagi karna luka bapak-bapak itu ternyata bersama
istrinya dia adalah seorang petani kopi dan sayur labu teman-teman kami
beristirahat sejanak di pondok bapak-bapak itu kami di beri labu mentah untuk
di makan kami bergegas melanjutkan perjalan karena sudah gerimis kami berjalan
menuju camp kopian yang di sepanjang jalan diguyur hujan kita dari pondok
bapak-bapak itu memakai ponco agar badan kita dan carrier kita tidak terlalu basah di perjalanan menuju camp
kopian saya meminum air hujan yang mengalir ke ponco saya sambil berjalan
menuju camp kopi beberapa bagian ada yang sampai terlebih dahulu untuk berteduh
mas imam kembali menyusul saya membawakan carrier ke camp kopi berjalan
perlahan-lahan menutupi kaki palsu saya takut basah setelah sampai di camp saya
duduk dan kembali meminum air hujan yang mengalir ke ponco saya para perempuan
berteduh di pondok milik petani dan mereka menyalakan api unggun untuk
menghangatkan tubuhnya setelah itu para laki-laki mencari tempat untuk
membangun tenda selanjutnya para perempuan membuat kopi dan memasak untuk makan
bersama yang lain membangun tenda saya mengampil air hujan yang terbendung di
flesit tenda terpasang semua satu persatu dari mereka bergantian memasuki tenda
untuk ganti baju selesai ganti baju semua kita siap-siap untuk makan bersama
sebelum makan bersama kami makan mamiri yang di beri oleh pendamping untuk di
bagi nah selesai itu baru kita bersama tetapi saya tidak mengikuti makan
bersama karna kaki saya sakit itupun kaki palsu saya saya lepas jadi mereka
bersama di luar saya makan sendirian di dalam tenda memakai piring dan sendok
piring itu di alasi oleh daun talah supaya tidak kotor dan mencucipun kita
tidak memakai air kita memakai tisu kering dan basah selesai makan bersama kita
bersih-bersi dulu setelah itu kita berkumpul kembali untuk melaporkan hasil
laporan perjalan kita selama di perjalanan dari kami yaitu EVALUASI ada yang
mendapat saran dan teguran karna beberapa
laporan kurang ada yang baik hingga dari kami di sarankan untuk memperbaiki laporan perjalanannya selesai
EVALUASI saya,fadil,mas yonki,mas tukul memasak nasi buat untuk sarapan besok
dan peserta tiga lainnya tidur saya berempat memasak nasi yang sangat lama
matengnya dan pendamping lainnya juga tidur saya menghidupkan data HP saya
untuk video call orang-orang yang ada di secret dan sambil berfoto-foto buat
dukumentasi pendamping yang tertidur dalam tenda bangun ikut video call pakek
HP saya stelah itu kembali berfoto-foto kembali sambil menunggu nasi matang
sesudah nasi matang saya merapikan masakan tadi dan bahan-bahan lainnya untuk
keperluan selanjutnya selesai itu semua saya bergegas tidur bersama fadil di
dalam tenda pun kita masih bercerita-cerita dan bercanda bersama tak lama
kemudian kita tertidur satu persatu.
Jumat 9 februari
Di pagi hari pada
hari jumat pagi jam 04.49 kami di bangun kan oleh pendamping untuk memasak buat
sarapan kita semua untuk melanjutkan pendakian, meski kami di bangunkan oleh
pendamping kami sulit untuk terbangun dari tempat tidur di kemudian itu dari
kami ada yang bangun dan bergegas untuk memasak lauk yang perempuan memasak
lauk saya sama cenges masih belom bangun dan masih terlelap tidur karna saya
kecapean dan kedinginan tak lama kemudian saya sama cenges di bangunkan untuk
sarapan bersama di pagi itu, di pagi itu dari kami semua tidak ada yang nafsu
makan di karnakan nasi yang kami makan terlalu dingin karna kita masak nasi itu
di malam hari saya hanya memakan beberapa suap nasi karna nasinya enak sekali
setelah itu saya pergi untuk mencuci tangan dan mereka semua masih makan habis
itu juga banyak yang berhenti makan saya tidak tau nasi itu di habiskan apa di
buang saya tidak tau setelah selesai makan kami membersihkan tempat makan kami
setelah itu dari pendamping membagi konsumsi ke para peserta dan air minum buat
perjalan menuju pos selanjutnya, kemudian dari kami semua ada yang bolak balik
untuk pup setelah itu kami semua bongkar tenda dan pendamping tidak membantu
peserta untuk membongkar tenda, sehingga dari peserta yang membongkar semua
tenda itu, mulai dari tenda peserta hingga tenda pendampingpun ikut kami
bongkar, selesai itu packing dan membagi konsumsi air minum, untuk persediaan
perjalanan, kemudian selesai packing dan membagikan konsumsi air minum, untuk
persediaan perjalanan, kami semua bersih-bersih sampah di area camp, kemudian
semua peserta dan pendamping berdo`a bersama untuk kelancaran keberangkatan
kami semua, lalu kami semua bergegas untuk memulai perjalanan, kami semua
berjalan untuk melanjutkan perjalanan, dan ditengah perjalanan saya berjalan
sendirian terpisah dari peserta dan pendamping dan sayapun terus berjalan meski
sendirian dan tiba-tiba teman saya yang bernama DINA memanggil saya dari
belakang meminta untuk menunggunya dan dia meminta untuk berhenti sambil
menunggu peserta yang lainnya setelah mereka datang kami melanjutkan perjalanan
lagi dan pendamping kami tiba-tiba lupa jalan sehinga dari pendamping ada yang
mencari jalan untuk melanjutkan perjalanan kami itupun dari pendamping masih
belum menemukan jalan yang benar untuk melanjutkan perjalanan.kami masih
kebingungan dan porter kami masih terus mencari jalan setelah itu porter kami
kembali dan mengajak kami berjalan dan masih lagi sehingga terus berjalan
tiba-tiba pendamping kami menemukan gubuk petani sehingga pendamping menanyakan
kepada ibu petani itu di mana arah jalan yang sebenarnya benar kami dan kami
terus berjalan di mana jalan itu yang di tunjuk kan oleh seorang ibu-ibu petani
kami di suruh beristirahat di suruh menunggu porter yang mencari jalan kami
bersantai-santai tertawa bareng saya pun merayu siska,dina,rofikoh, mereka
selalu tertawa dan terhibur dengan canda tawa saya kemudian itu porter datang
meminta kami kembali turun dan kami pun turun untuk mencari jalan kembali saya
sering beristirahat karna badan saya kesakitan sehingga saya sering berhenti tapi
saya terus berjalan untuk terus mencari jalan yang benar, di setiap perjalanan
saya tidak pernah lelah untuk bertjalan tetapi kesakitan karna luka kaki saya
yang saya derita karna di buat untuk berjalan tetapi saya masih semangat untuk
berjalan karna luka kaki saya masih bisa di sembuhkan karna saya berjuang untuk
kehidupan saya jangan pernah mengeluh untuk berjuang jika keinginan kamu itu
tinggi jika kamu sering mengeluh buanglah keinginan kamu yang terlalu tinggi
itu karna berjuang itu susah tidak mudah berjuang itu butuh tantangan dan
perjuangan yang sangat tinggi yang harus kamu miliki adalah niat kamu di sana
untuk apa dan sebagai apa, di setiap perjanan saya selalu merepotkan mas-mas
dan mbak- mbak yang telah mendampingi saya untuk kegiatan aplikasi ini dan teman-teman
sekalian juga, pandakian kami semua terus berjalan sehingga kami kembali
kehutan basah kembali untuk mendirikan tenda sebelum kami mendirikan tenda kami
masih mencari tempat untuk mendirikan tenda sebelum itu kami waktu beristirahat
teman kami yang bernama dina itu di gigit pacet karna si dina itu tidak
merasakan bahwa dia di gigit pacet setelah pacet itu sangat besar sekali baru
kerasa bahwa ada sesuatu yang berjalan di dalam celananya setelah celanya di
buka ada pacet yang besar sehingga dia meloncat-loncat dan dia ketakutan hingga
hampir menangis setelah itu kami membangun tenda para perempuan semua
beristirahat sambil mengobrol para laki-laki membangun tenda untuk kami
beristirahat yang lain membangun tenda
saya duduk-duduk manis karna kaki saya sakit saya mencari kayu bakar untuk
membuat api unggun di malam hari selesai membangun tenda kami mengeluarkan
keperluan kami di dalam carier untuk keperluan malam hari mulai dari keperluan
untuk tidur dan untuk masak setelah itu kami masak bersama untuk makan bersama
kita makan di tenda masing-masing pendamping-pendamping peserta-peserta selesai
makan kami bersih kan kembali alat-alat tempat makan kami untuk keperluan makan
selanjutnya setelah itu kami melaporkan laporan perjalan kami satu-persatu dan
laporan kami sudah ada kebaikan yang sangat meningkat selesai melaporkan
perjalanan kami beristirahat dalam tenda sambil bercerita-cerita ada yang
bercerita kalok angkatan kita ikut semua enak ya ada yang bilang begitu dan ada
yang bilang kapan kita nyamek puncak ya kok rasanya jauh banget setelah
bercerita-cerita kita semua bercanda dan tertawa bersama sehingga saya pengen
buang angin dan saya bilang kepada teman-teman dan teman-teman menjawab kentut
aja sudah yang keras kata teman-teman setelah saya lepas dan suara yang sangat
kencang sekali dan bau yang sangat menyengat sehingga dari teman-teman semua
kebingungan yang pengen keluar dari tenda karna bau kentut yang sangat
menyengat sehingga pintu tenda di buka dan teman keluar sambil tertawa
terbahak-bahak kemudian salah satu pendamping menghampiri kita karna rame dan
sering tertawa dan dia bilang eh rek jangan rame ini di alam bebas hargai penghuni
di sini ini kan wilayah orang jadi hargai lah ya dia bilang begitu kami pun
terdiam dan mulai beristirahat sebelum tidur saya masih menulis kata-kata
motivasi pendakian gunung setinggi apapun tidak harus orang sempurna, karna
yang sempurna belum tentu menaklukan tingginya gunung dan perjuangannya di
setiap perjalanan, kelelahan saya bukan karna kelelahan untuk berjuang menuju
puncak, tapi saya mengeluh karna kesakitaan yang pada diri saya sendiri.
Sabtu 10
februari 2018
Pagi itu pada hari sabtu jam 05.07
kami peserta yang di bangunkan oleh ketua umum HIMACITA mas imam baihacki dan
kicauan burung yang indah saya pun bangun dan membangunkan teman-teman peserta
lainnya mereka terbangun saya pun merayu-rayu dina untuk bangun pagi itu kami
becanda ria bersama teman-teman sambil merapikan tempat tidur dan membersih kan
tenda dari sampah yang ada di dalamnya kemudian saya keluar dan mereka pun ikut
keluar setelah itu kami menyiapkan alat-alat untuk masak dan pendamping masih
di dalam tenda stelah kami keluar meraka ikut keluar juga untuk membantu kami
masak mereka semua masak saya ijin pada teman-teman bahwasannya saya kabelet
pup kata pendamping kalok mau pup jkangan di jalan carik tempat di bawah pohon
kayu dan gali tanahnya yang dalam katanya saya masih mondar-mandir mencari
tempat yang sepi takut ada warga lewat dan saya masih terus mencari-cari
tiba-tiba saya menemukan bekas dari teman-teman yang habis selesai pup nah di
situlah saya pup saya menggali tanah agak dalam setelah saya mau membuka celana
tiba-tiba ada salah satu senior saya yang mengintip saya dan pun tertawa sambil
menyuruh pendamping saya untuk pergi karna saya sudah kabelet pup setelah
pandamping itu pergi saya masih menggali tanah karna masih kurang dalam setelah
itu saya saya membuka celana dan melepaskan wah enaknya sesudah itu saya cawik
menggunakan tisu basah dan menutup kembali galian saya yang sudah terisi dan
saya pun kembali ke tenda setelah di tenda mereka masih masak saya mencatat
sambil mencatat dan memotong kayu dan menghidupkan api unggun kembali sisa api
unggun yang semalam untuk menghangatkan badab di pagi itu setelah itu masakan
semua sudah mateng dan kita membagi rata pada peserta dan pendamping untuk
sarapan bersama untuk memulihkan kembali energy kita untuk melanjutkan perjalanan
kita makan bersama mengalir keringat karna lauk yang masak terlalu pedas tapi
kami semua semangat sarapan bersama selesai makan kita bersih kan kembali
tempat makan kami kita rapikan kembali untuk memasak selanjutnya setelah itu
kami bongkar tenda semua mulai dari tenda peserta hingga tenda pendamping kita
bongkar bersama setelah membongkar tenda kami rapikan kembali tenda itu untuk
di packing sebelum packing kami semua bersih-bersih area camp mulai dari tali
rafia yang ada di pohon kami buka kembali dan bersih-bersih sampah sisa makanan
kami dan bungkus camilan kami selesai itu semua kami mengumpulkan air
minum kami dan konsumsi kami semua untuk
di bagi rata setelah terkumpul semua pendamping membagikan air minum dan
konsumsi dan alat-alat lainnya untuk di packing kemudian kami packing semuanya
agar tidak terlalu banyak membuang waktu setelah packing kami membungkus sampah
dan masih mencari sampah yang tersisa setelah itu kami selesai packing kami
berdoa untuk melanjutkan perjalanan berdoa menurut keyakinan masing-masing
kemudian dari itu kami berangkat tiba-tiba ada seorang pemburu lewat memakai
motor dengan membawa dua motor yang terdiri empat orang yang berboncengan dia
memarkirkan kendaraan motornya di dekat camp kami setelah si pemburu itu
berangkat tiba-tiba ada seorang bapak-bapak tua dia juga seorang pemburu kami
tidak tau kalok awalnya bapak ini adalah seorang pemburu dan salah satu
pendamping dari kami menanyakan arah jalan itu pada bapak-bapak itu pendamping
berkata permisi pak mau numpang nanyak arah jalan yang benar menuju raung di
mana ya pak, bapak itu menjawab lurus aja ikuti jalan ini sudah bapak-bapak
bilang dan tibi-tiba ayo bareng saya aja saya juga mau ke raung kata si bapak dan
dari kami semua bahagia karna kita tidak akan salah jalan kembali karna sudah
ada bapak-bapak ini yang berbarengan bersama kami menuju raung pendamping kami
bilang monggo pak jenengan di depan kata pendaping saya bapak itu menjawab
moggo samean di depan aja saya yang di belakang aja nah dari situlah kami
berangkat bersama bapak-bapak itu peserta di depan semua dan sebagian
pendamping dua orang pendamping di belakang si bapak-bapak itu ka,mi terus
berjalan melewati jalan yang kemaren jalan yang penuh tantangan dan licin kita
memasuki hutan basah dan terus berjalan di jalan yang licin hingga saya sering
kali terjatuh beberapa kali tapi saya selalu tertawa di setiap perjalanan saya
selalu berbicara bersama dengan teman-teman bahwa sannya banyak marka lawas
yang sudah pudar ada marka dari tali raffia dan ada marka dari pita yang
warnanya sudah pudar tiba-tiba salah satu pendamping dari kami menyusul dari
belakang dan saya menyakan sambil bercanda kuat mas dan dia menjawab kuat dia
bilang ke saya kamu kuat gak van saya menjawab Alhamdulillah kuat mas
pendamping kami it uterus berjalan sambil mencari sayur pakis saya pun terus
berjalan mengejajar mengejar yang lain dan saya selalu berhenti di karenakan
jalannya yang licin dan selalu menanjak saya pun selalu semangat untuk berjalan
tidak mengenal lelah karna saya tau berjuang itu tidak mudah kami terus
berjalan dan berhenti-henti saya selalu menoleh kebelakang melihat bapak-bapak
itu yang berjalan sangat santai yang membawa pikulan kita selalu menaiki
tanjakan di setiap perjalanan kita, banyak pohon-pohon besar yang menyejukkan
keringat perjuangan kita dan burung-burung yang berkicauan di atas kita dan di
ketinggian 1500 saya melihat burung yang berwarna merah dan orange yang
berkicauan sangat indah di saat itu posisi kami sedang beristirahat dan
menunggu bapak-bapak itu dan teman-teman lainnya juga dan saya pun berduduk
santai sambil menunggu bapak-bapak dan teman-teman saya minum untuk mengganti
cairan yang hilang dan memakan permen setelah mereka datang kami masih
beristirahat agak lama dan saya bercerita-cerita bersama bapak-bapak itu dan
saya bertanya bapak ini mau kemana bertani tah di sini saya bertanya seperti
itu bapak itu menjawab saya tidak bertani saya berburu di sini kata si bapak
sambil merokok saya bertanya lagi bapak ini setiap hari ke sini bapak itu
menjawab lagi, iya saya kembali bertanya lagi biasanya bapak ke raung sampai
mana dan bapak itu menjawab kembali batas saya berburu itu cuman sampai pondok
sumur saya bertanya kembali yang bapak buru itu apa bapak itu kembali menjawab
lagi saya berburu apa aja dapat burung ya burung dapat kijang ya kijang dapat
babi ya babi kata si bapak setelah itu saya bertanya kembali ke pada bapak it
terus hasil buruan itu buat apa pak dan bapak itu kembali menjawab iya saya
jual dan saya menanyakan kembali hasil penjualan pemburuan tiap hari dapat
berapa pak dan bapak itu menjawab kembali hasil buruan saya itu tiap hari tidak
menentu katanya si bapak terus lah saya terus bertanya kalok bapak pulang
biasanya jam berapa bapak bilang saya pulang jam dua kata si bapak setelah itu
bapak-bapak itu berpamitan kepada kita semua untuk melanjutkan perjalanan
terlebih dahulu dan kami menjawab iya sudah pak hati-hati dan kami mengucapkan
terima kasih kepada bapak-bapak itu bapak itu menjawab iya sama-sama terus
pendamping kami bertanya ini jalannya sudah lurus aja pak jawab si bapak-bapak
itu iya kamu lurus aja jalan ini dan ikuti jalan ini tidak usah menggok-menggok
kata si bapak-bapak itu beberapa menit kemudian setelah bapak-bapak itu
berjalan agak jauh kita juga bergegas berangkat kami berjalan dan terus
berjalan hingga kaki saya terasa ke sakitan dan lagi-lagi saya sering berhenti
karna semua badan saya udah terasa ke sakitan kaki yang terluka dan bahu saya
yang patah saya berhenti terus menerus meletak kan carier karna badan saya
sudah tidak kuat membawa beban mulai dari bahu dan kaki saya, saya berjalan
dengan kaki satu karna kaki saya yang satu tidak kuat untuk menumpu dan carier
saya sering di bawak cenges karna kaki saya sakit parah terima kasih tuhan
lindungan mu, kita sampai di pondok sumur jam 01.53 kita sampai di sana
beristirahat dan duduk santai karna kita sudah sampai di pondok sumur kami
masih menunggu peserta yang lain dan sambil tidur-tiduran tiba-tiba salah satu
pendamping kami menemukan air minum setengah botol yang ada di semak-semak
tetapi air minum itu sangat kotor tapi itu tidak terpengaruh untuk kami dan
salah satu dari pendamping kami mengeluarkan bufnya untuk menyaring air
tersebut untuk di minum, buf itu sebelum di buat untuk menyaring sudah basah
terlebih dahulu yang basah oleh keringat tapi saya tidak jijik untuk meminumnya
karna di sana sulit sekali untuk menemukan air bersih meski itu air bersih itu
ada air hujan dan ketika kami terkempul semua di pondok sumur mereka merasa
bahagia sebelum kami berangkat salah satu dari pendamping kami memotong botol
aqua untuk di gantung di pepohonan dan di tarok di semak-semak saya bertanya
pada pendamping saya kenapa di tarok di situ mas terus pendamping saya menjawab
iya ini buat persediaan para pendaki ini kalok hujan botol ini akan terisi kita
menarok botol ini sudah menolong sodara kita yang mendaki katanya si pendamping
setelah berkumpul semua kita melanjutkan perjalanan untuk menuju pondok tonyok
dari pondok sumur menuju pondok tonyok saya berjalan dengan kaki penuh
kesakitan dan penuh luka dan beban saya yang saya bawa dan saya pun terus
berjalan yang sangat penuh dengan tanjakan di depan saya dua anggota pendamping
yang membersihkan jalan dari pohon-pohon tumbang dan dari semak-semak yang
menutupi jalan meski jalan telah di bersihkan oleh dua anggota pendamping
tetapi kami tetap berjalan dengan merunduk karna terlalu banyak semak-semak
yang meng halangi jalan dan saya pun terus berjalan meski selalu tersandung
olar ranting kayu dan semak-semak kami ketinggalan oleh pandamping karna dia
berjalan sangat cepat tiba-tiba dua pendamping lagi melalui kami dan kami
berusaha mengejarnya taoi kita masih ketinggalan lagi kami bertiga yang sebagai
peserta terus berjalan untuk mengejar pendamping yang di depan yang lain masih
di belakang yang berjalan dengan sangat lambat, di setiap perjalanan kami
bertiga di ikuti oleh burung-burung yang berterbangan yang berkicauan yang
menyemangatkan kita untuk terus berjalan tanpa harus mengenal lelah saya pun
sering berhenti di karnakan terlalu banyak tanjakan yang ekstrim, jam 03.35
tiba-tiba di tengah-tengah perjalanan ada dua anggota pendamping yang sedang
berhenti yaitu mas imam dan mbak suci dan mereka berdua bertanya sehat fan saya
menjawab Alhamdulillah sehat mas,mbak, dan di situlah saya di suruh
beristirahat saya pun beristirahat sambil meminum untuk mengganti cairan yang
terkuras dan kami menunggu peserta yang sambil menulis laporan perjalanan dan
bercanda tertawa ria bersama dua pendamping stelah peserta yang lain datang
kami berjalan kembali untuk melanjutkan perjalanan tetapi kami selalu tetinggal
oleh pendamping yang selalu berjalan dengan cepat kami terus berjalan dan
tiba-tiba saya kembali berhenti di karnakan kaki saya luka sehingga setelah
berhenti mbak suci mengobati kaki saya yang terluka dengan memberi pembalut
setelah itu kami melanjutkan perjalanan untuk menuju pondok tonyok kami terus
berjalan meski kaki saya luka karna kita takut kemalaman untuk membangun tenda,
jam 04.20 kita beristirahat kembali bersama semua peserta da semua pendamping
kita bercerita-cerita betrsama sambil tidur-tiduran dan melihat langit yang
indah dan cerah tiba-tiba ada seekor elang yang terbang berputar-putar di atas
kita yang mengispirasi kita semua untuk melangkah menuju tingginya puncak setelah itu kami terus berjalan kembali dan
tiba-tiba kabut datang daru bawah salah satu pendamping kami memanggil mas
ketum yaitu mas imam untuk segera bergegas menuju tonyok kami pun terus
berjalan sehingga kami sampai di pondok tonyok jam 05.45 ketinggian 2700 saking
senangnya saya berjalan sehingga sampai-sampai saya terjatuh dan semua
teman-teman terwa tapi saya bangun untuk menarok carier saya, setelah itu kami
bersih-bersih area untuk di bangun kan tenda setelah selesai bersih- bersih
area kami membagikan tempat untuk membangun tenda setelah itu kita semua
membangun tenda bersama untuk kita beristirahat dan memasak kemudian itu kami semua menata carier kita semua dan
mengeluarkan alan-alat masak kita semua peserta persedian konsumsi yang mau
kita masak, kita masak bersama setelah itu kita sarapan bersama selesai sarapan
bersama kita bersih-bersih tempat makanan kemudian kita istirahat sejenak
setelah itu kita melaporkan laporan perjalan satu-persatu dan saya melaporkan
laporan perjalan yang pertama saya mendapatkat teguran berat dari mas rohim
karna saya tidak mencatat suhu dan ketinggian berapa setelah itu mereka dan
selesai itu kami memasuki tenda untuk beristirahat kami tertidur hanya dengan
15 menit kita di bangunkan jam 11.00 untuk melanjutkan pendakian malam kita
membawa carier satu menuju puncak dan kita packing mulai dari jaket dan senter
untuk melakukan pendakian malam setelah itu kami semua berkumpul dan berdoa
untuk pendakian malam kita berdoa menurut keyakinan masing-masing setelah itu kami
berangkat dan tiga pendamping yang berada di depan kita dan ada tiga pendamping
lagi yang ada di belakang kita kita terus berjalan sambil saling membantu dan
member tau jika ada pohon tumbang dan pohon yang menghalangi perjalanan kita
kita sampai di pondok demit beristirahat sebentar dan saya ijin kencing dan
tiba-tiba senter saya terjauh tidak terasa bahwasannya senter saya itu terjatuh
dan saya menanyakan pada teman-teman loh senter saya mana jawab teman-teman loh
tidak tau cobak kamu liat tempat kamu tadi yang kencing kata salah satu
pendamping setelah saya liat kembali ternyata ada di sana tempat di mana saya
kencing kata salah satu pendamping menanyakan kembali senternya tidak kenak di
kencingi dek jawab tidak mbak setelah itu kita melanjutkan perjalan kembali
sehingga kita melewati kayu-kayu yang tumbang kemudian itu saya terjatuh dan
bangun kembali untuk terus berjalan dan kata teman-teman saya di pertenagah
perjalanan tiba-tiba pingsan ada yang yang bilang hipo dan ada yang kram perut,
Minggu
11 februari 2018
pagi itu jam 08.00 saya di bangunkan oleh mas
imam saya pun masih terbaring lemah stelah badan saya terkena sinar matahari
tiba-tiba semangat saya kembali pulih setelah saya terbangun teman-teman sudah
menghilang semua cuman tersisa dua anggota yaitu mas imam dan mas rohim, mas
rohim di waktu itu masih tertidur dan saya menanyakan kepada mas imam
teman-teman kemana mas jawab mas imam teman-teman semua udah tadi pagi
berangkat menuju puncak fan kata mas imam saya bertanya kembali kenapa kok saya
tidak di bangunkan mas jawab mas imam kamu itu semalam pingsan dan teman-teman
semua memelukmu mereka tertidur di sampingmu semua kata mas imam terus dia
berkata kembali palingan mereka sudah nyampek puncak fan mas imam berkata
seperti itu kalok kamu mau menyusul mereka ayo kita temani dan berangkat kata
mas imam tidak sampai puncak tidak apa-apa sampai di memorial deden aja kita
menunggu mereka di sana aja kata mas imam setelah itu semangat kembali untuk
melanjutkan perjalanan sebelum itu saya masih mencari kaki palsu saya yang di
lepas semalam waktu saya masih pingsan ternyata kaki saya di sembunyikan
setelah di temukan saya pasang kembali untuk melanjutkan perjalanan sebelum
saya berangkat mas imam membangunkan mas rohim yang masih tertidut setelah itu
kita berangakat menuju teman-teman sekitaran 15 menit kita sampai ANGIN kita
berhenti-henti mas imam yang membawa air minum satu botol dan permen satu pack kami
berhenti sejenak untuk minum dan memakan permen setelah itu kami melanjutkan
perjalanan kami terus berjalan sambil bercerita-cerita sejatahnya gunung raung
yang meletus setelah itu kami hampir sampir sampai di memorial deden dan saya
beristirahat mas imam berkata yakin kamu gak mau muncak fan kata mas imam lihat
di depanmu sudah batas VEGETASI saya berdiri dan melihatnya sambil terkejut saya
pun berjalan melihat indahnya puncak kami sampai di batas VEGETASI mas imam
memanggil merekan huuuuuuuuuuuuuuy dan mereka pun menjawab huuuuuuuuuuy
kemudian saya memanggil mereka juga olarrrrrrrrr di siniiiiiiiiiii kembali
hadir olar menyusul kalian semuaaaaaaaaa saya pun terus berjalan saya menuju
berjalan menuju puncak sambil berpegangan tangan mas rohim setelah itu melewati
jalan sirotol mustakim yang kanan kiri itu jurang saya berjalan duduk seperti
kodok saya pun terus berjalan menuju puncak dan saya di bantu dengan
menggunakan webbing salah satu pendamping yang membantu saya menariknya dan di
kaitkan pada batu saya terus berpegangan pada webbing meski berhenti-henti hingga
akhirnya saya sampai puncak mereka yang sampai duluan di puncak langsung
membuat kopi setelah saya sampai di puncak kami masih beristirahat sektar 5
menit setelah itu kami kemudian kita UPACARA selesai kita berfoto-foto kami di
selimuti kabut di atas puncak karna kita selalu rame selesai foto-foto kita
semua turun jam 12.00 bersama turun ternyata yang lain berjalan sangat cepat
sehingga saya tertinggal bertiga di pertengahan puncak karna saya turunnya
tidak bisa untuk menumpu sehingga fadil dan mas yongki membantu saya turun
menggunakan webbing setelah kita sampai di bawah kita sudah tertinggal jauh
dari mereka sehingga kami mengejar mereka karna kita ada air minum dan takut
ketinggalan perjalanan di malam hari setelah sampai di angin kita bertemu teman-teman
perempuan yang sedang kebingungan mencari jalan sehingga mereka menunggu kita
bertiga setelah itu kami berjalan bersama-sama dan dari mereka pun tidak ada
yang membawa air juga kami terus berjalan hingga sampai di camp darurat tempat
saya yang pingsan setelah sampai di sana kami sudah di buat teh sama pendamping
yang turun terlebih dahulu kita semua meminumnya setelah itu kita berjalan
kembali kita berjalan menuju camp pondok tonyok hingga malam dan kita
berpegangan pada webbing yang paling depan mas yongki yang paling belakang mbak
suci kita kesulitan dalam perjalanan karna penerangan untuk menerangi hanyalah
power bank punya mas yongki itu pun masih kurang cukup menerangi yang di depan
aja tiba-tiba mas yongki berhenti meminta webbing untuk di potong dan di bakar
untuk menerangi jalan yang di belakang setelah itu mbak suci meminta yang
laki-laki untuk ada di paling belakang satu yaitu fadil webbing yang di bakar
itu itu telah habis dan kita menghidupkan lilin untuk menerangi jalan tak lama
kemudian lilin itu juga habis dan kami terus berjalan dengan senter satu yaitu
hanyalah power bamk kemudian itu kita di guyur hujan sehingga kita semua basah
kuyub kami terus berjalan sambil meminta pertolongan kepada pendamping yang ada
di bawah tak lama kemudian mereka datang menyusuk kami kemudian kita lebih
cepat berjalan menuju pondok tonyok camp kita setelah sampai di tenda ternyata
tenda peserta basah kuyub karna tidak di tutupi flesid sehingga dari kami masih
memasang flesid setelah itu kita membersihkan air yang ada di dalam tenda karna
basah kaki palsu saya pun sangat basah setelah itu kita bergantian memasuki
tenda untuk berganti pakaian selesai itu semua kita makan di masing-masing
tenda yang sudah di masak kan oleh pendamping tadi yang awal terlebih dahulu
sampai di camp selesai itu saya membenarkan tenda yang basah untuk beristirahat
dan kami pun tertidur lelap.
Senin 12
februari 2018
Kami bangun jam 07.00 karna kita
semua kecapean dan kedinginan setelah itu dari semua memasak untuk sarapan pagi
setelah selesai sarapan kita bersih-bersih area dan dari pendamping bayak yang
bolak-balik pup karna masakannya terlalu kepedesan setelah itu semua kita
bomgkar tenda dan pendamping masih masak mie hunt setelah itu kami semua
packing untuk menuju perkampungan sebelum itu kami berdoa menurut keyakinan
masing-masing setelah itu kita berangkat bersama-sama dan di pertengahan
perjalanan mbak suci membagi rata mie hunt yang di masak tadi padi dengan di
bungkus menggukan plastik untuk di makan di perjalanan setelah itu kita
melanjutkan perjalan kembali dan saya berdua bersama dina berdua di tengah
hutan basah yang terpisah dari teman-teman stelah itu kita terus berjalan
mengejar peserta yang di depan tiba-tiba dina ketakutan karna tidak ada marka
dan kami pun terus berjalan kami bertemu dengan teman-teman di depan yang
sedang beristirahat dan kami pun masih menunggu yang lain yang masih ada di
belakang setelah mereka datang kami kembali berjalan dan terus berjalan
sehingga saya berpisah dengan yang saya hanya berduaan bersama mas imam di
perjalanan saya di di kagetkan oleh seekor lutung yang melompat dari pohon ke
pohon kami pun melanjutkan perjalanan tiba-tiba kami di kagetkan kembali oleh
geledek yang sangat kencang kami masih terus berjalan sehingga turunlah hujan
yang mengguyur kita semua kami pun terus berjalan meski kita kehujanan dan
tiba-tiba kaki saya yang luka sangat sakit dan perih sehingga saya tidak bisa
berjalan kata mas imam ayok terus berjalan sampai ke camp ke dua nantik sampai
sana saya usahakan carikan kendaraan buat jemput kami untuk mengantarkan ke
pedesaan terlebih dahulu mereka semua melanjutkan perjalanannya saya sama mas
rohim dan fadil beristirahat menemani saya sambil menunggu jemputan kemudian
ada seorang pemburu terdiri dari dua orang yang ketakutan melihat baju PDL kami
yang sama dengan polisi hutan mereka yang ketakutan mengeluarkan celurit
setelah itu ada suara motor yang menghampiri kami ternyata oh ternyata mas
yongki yang membawa motor itu kemudian itu saya berpamit kepada mas rohim dan
fadil untuk berangkat duluan dan mereka masih membuat kopi saya pun terus
berjalan memakai motor bersama mas yongki motor yang kami naiki sering mati dan
tiba-tiba kami terjatuh sehingga pancean motor si punya bapak itu patah dan
kami masih mencari pepatahan itu setelah di temukan kami berangkat menggunakan
motor dan di perjalanan saya bertemu teman-teman dan pendamping mereka menitip
sampah yang sudah yang di kantongi dan setiap bertemu teman saya selalu bilang
duluan teman-teman menjawab iya setelah sampai di pondok pak yanto saya
berganti motor setelah itu saya bersama saudara mas imam menuju pedesaan saya
di bonceng sambil bercerita-cerita tiba-tiba kami terjatuh beberapa kali
setelah itu kami sampai di pedasaan jam 05:47 setelah sampai di sana saya
membuka kaki palsu saya dan saya di beri pinjaman baju ganti oleh sodara mas
imam kemudian saya di buatkan teh dan di masakkan beberapa kemudian senior saya
yang ada di jember menghampiri saya menanyakan kabar saya karna yang kawatirkan
hanyalah seorang dan masih ada yang melihat teman-teman kami dengan menusulnya
dan dia kembali lagi tak lama kemudian teman kami datang setelah mereka ada
yang mandi dan sebagian ada yang makan dan kita masih bercerita-cerita di salah
satu rumah warga hinggi kemudian mencari selteran pick up untuk kita pulang
menuju kampus setelah itu pick up datang dan kami semua siap-siap untuk pulang
kita berpamitan kepada semua warga di sana dan kepada sodara mas imam setelah
itu kita menaiki pick up satu-persatu hingga akhirnya kita berangakat pulang
menuju jember dan kami masih mampir ke pos pendakian buk endang bahwasannya
kita semua lengkap dan selamat setelah itu kami berangkat kembali dan saya
tidur sampai di jember saya terbangun dan kemudian kita rapat masalah telat
turun selesai jam 03.03 saya pun bergegas istirahat.
*SELESAI*
MOTTO
Ketahuilah
tidak ada penyesalan dalam perjuangan
Jangan
pernah malu dengan kekurangan mu selama kamu bisa mengimbangi yang sempurna
untuk berjuang
HIMACITA
CIPT: Ahmad Ifan

Semangat, dukungan dokumentasi kurang, proses awal sampe akhir andaikan ada lebih sempurna
BalasHapus