5cm Edisi Part 2 Ekspedisi Gunung Lemongan
Laporan
Perjalanan
5cm
Edisi Part 2 Ekspedisi Gunung Lemongan
“5
cm tapi gak ke Semeru, gak muncak pula”
Jumat
30 Oktober 2015
Pukul
03.00 panitia membangunkan kami dan menyuruh kami segera bersiap-siap untuk
menikuti kegiatan Aplikasi II GH(Gunung Hutan) yang akan dilakukan di Gunung
Lemongan, di desa Papringan Kecamatan Klakah Kabupaten Lumajang. Kami bergegas
untuk bangun dari tidur kami dan mulai menuju toilet kampus untuk mandi,
berhubung toilet hanya sedikit dan harus berbagi dengan mahasiwa parallel kita
pun harus mengantri dengan sabar. Setelah cukup lama mengantri akhirnya tiba
giliranku untuk mandi, aku bergegas mandi dan mengganti pakaianku dengan baju
PDL, semua selesai, siap dan rapi. Barang-barang yang akan dibawa sudah
tersusun rapi, carier ditata sedemikian rupa sembari mempotret untuk membakar
semangat para peserta.
Persiapan
pertama sudah selesai selanjutnya kita mulai sarapan pagi di parkiran, dua nasi
bungkus untuk 5 orang, tak usah enak asal sama-sama kenyang, itu prinsipnya “namanya
juga pecinta alam selalu berbagi dengan saudaranya”. Sarapan selesai waktunya
menata carier kedalam mobil, tapi tunggu foto bersama dan berdoa dulu agar apa
yang akan kita lakukan nanti dapat berjalan sesuai apa yang kita harapkan.
Semua siap kami mulai masuk kealam mobil.
Dua
buah mobil yang kami bawa menuju tempat Aplikasi kali ini, mobil pertama yaitu
mobil peserta (avanza) yang berisikan 6 orang yang dikemudikan oleh mas.Ramok
dan di mobil satunya yaitu mobil panitia (toreto) yang berisikan 4 orang, dan
dikemudikan oleh mas.Kelly. Dari kampus IKIP PGRI Jember kami menuju pop bensin
Achamd Yani untuk mengisi bahan bakar, setelah selesai kami melanjutkan
perjalanan. Perjalanan kami mulai aku (Suwek) yang duduk di kursi bagian tengah
bersama Luced dan Kulat di kanan kiriku, mulai mempersiapkan diri untuk
melanjutkan tidur, maklum kalau naik mobil bawaannya pengen tidur terus. Di
bagian depan ada mas.Ramok dan Pengis, sedangkan Tukul yang duduk sendiri di
bagian belakang sudah mulai tidur ketika baru menaiki mobil.
Di
tengah tengah perjalanan kami mulai terbangun dan mulai bersenda gurau, higga
tidak terasa satu setengah jam berlalu, kamipun sampai di tempat tujuan,
setelah cukup jauh kami diberitahu bahwa tempat dimana seharusnya kami turun
bukan di daerah ranu klakah melainkan di daerah koramil. Akhirnya kami menunggu
ketum, untuk mendapatkan informasi selanjutnya. Sembari menunggu ketum datang
aku dan Luced memutuskan untuk membeli roti tawar untuk bekal sarapan kami
besok, setelah selesai membeli roti kami putuskan untuk berfoto sebentar di
plang yang bertuliskan Ranu Klakah, itu kami lakukan untuk mengisi kekosongan
sembari menunggu datangnya ketum. 10 mnt berlalu akhirnya ketum datang bersama
panitia acara, mereka berdiskusi dan akhirnya menentukan keputusan bahwa kami
harus mulai traking dari sini. Waaah….sepontan kami berteriak, “jauh
sekali”traking pertama dimulai dari Ranu Klakah menuju tempat penitipan dan
pendataan (rumah pak kampung) yang terletak di desa papringan.
Sontak
membuat kami sedikit lemas mendengarnya, tapi tak menyurutkan niat kami untuk
menjalankan Aplikasi II ini, karena mendaki Gunung Lemongan adalah hal yang
kami harap-harapkan setelah beberapa rekomendet Gunung yang kami inginkan tidak
bisa di gunakan sebagai tempat Aplikasi II karena beberapa faktor. Tapi jangan
salah Gunung dengan ketinggian 1.676 ini tidak bisa di buat enteng. Sudah
banyak cerita mengenai traking pendakian Gunung ini yang sangat sulit dan
membutuhkan tenaga ekstra, sebab medan yang akan kami lalui nanti lumayan
menantang.
Naik
turun-naik turun lagi jalanan beraspal kami lewati untuk menuju rumah pak
kampung, sesekali kami beristirahat untuk memulihkan stamina, karena salah satu
dari saudara kami (pengis) sudah mulai kelelahan. Setelah cukup pulih kami melanjutkan
kembali, dalam perjalanan kami berjalan beriringan dengan anak-anak desa
papringan yang baru pulang dari sekolah, mereka menambah keseruan perjalanan
kami, betapa salutnya kami melihat mereka yang setiap hari berjalan ber mil-mil
jauhnya hanya untuk mengenyam pendidikan. Sunggu pemandangan yang sangat
mengesankan dan membuat kami tergetuk. Sudah 1,5 jam kami berjalan dan akhirnya
kami sampai di rumah pak kampong yang menjadi pos pertama kami.
Disini
kami mulai beristirahat untuk memulihkantenaga kami sembari menunggu selesai
shalat jumat, cukup lama kami ada disini mempersiapkan segala sesuatuatu yang
akan di bawa, botol-botol aqua mula kami isi, semua karier kami harus penuh
dengan air, karena menurut pak Amat (ayah pak kampung) di atas tidak ada air,
sebab musim kemarau panjang membuat kita akan kesulitan untuk mendapatkan air
di atas nanti. Persiapan sudah selesai barang-barang yang dirasa tidak perlu
dibawa kami pisah lagi dan disimpan di dalam mobil, kami lakukan untuk
antisipasi barang bawaan agar tidak terlalu berat. Sebelum berangkat kami
mengisi perut kami dulu, bakso yang letaknya bersebelahan dengan rumah pak
kampung menjadi rekomendasi makan siang kali ini. Baksonya terbilang murah Rp
7.000 sudah sangat mengenyangkan bagiku ditambah dengan 1 gelas teh Rio sebagai
minuman penutupnya. Setelah makan selesai kami berkumpul untuk brefing dan
efaluasi sebelum melanjutkan pendakian pertama. Kini karier sudah di punggung,
memulai berdoa dan berfoto bersama sebelum berangkat.
Pukul
13.01 kami berjalan sembari melakukan pengamatan flora dan fauna yang ada di
sekitar, tak lupa juga melakukan cekpoint. Selama di perjalanan dari pos
pertama kami nampak flora-fauna yang beragam mulai dari tanaman yang memang
sengaja ditanam dan tanaman yang memang tumbuh dengan sendirinya, sedangkan
hewan yang kami jumpai kebanyakan hewan ternak yang di pelihara oleh penduduk
sekitar dan anjing sebagai hewan penjaga. Sekitar 14 mnt berlalu rasanya nafas
sudah ada di ujung, jalan beraspal yang kita lalui sungguh sangat menanjak
sesekali langkah kami terhenti, beristirahat sejenak, mengatur nafas dan
membasahi tenggorokan dengan sedikit air agar tidak mengalami dehidtrasi. Tak
butuh waktu lama untuk kita beristirahat karna ini baru permulaan, rasa lelah
dan letih kini tak terasa karna hamparan pepohonan yang menghiasi pejalan kami
terlihat sangat indah.
Akhirnya
setelah 1 jam perjalanan kami sampai di pesanggrahan Mbah Citro. Mbah Citro adalah juru kunci
dari Gunung Lemongan. Pemulihan tenaga kami lakukan kembali, sambil melakukan
cekpoint, dari sini kita dapat melihat ketinggian gunung lemongan, sesekali aku
memotret indahnya Gunung dari balik semak dan dedaunan, cukup lama kami
beristirahat disini setelah kami merasa pulih, kami mulai meninggalkan tempat
yang kami jadikan sebagai pos II. Disini perjalan dimulai, medan yang di tempuh
perlahan berubah menjadi tanah berpasir, kami mulai memasuki hamparan tanaman
yang ada di kanan kiri, aku berjalan di bagian paling depan, karena aku merasa
akan lebih nyaman dan tak kan merasa lelah kalau aku berada di depan.
Ini baru awal tapi traking pertama
sudah menanjak dan berbatu, berjalan harus satu-satu, cukup memberatkan
ditambah lagi cuaca yang cukup panas menyengat hingga ketulang. Sebisa mungkin
kami saling mensupot agar tak patah semangat, aku berjalan sambil memotret
pemandangan sekitar karna menurutku itu adalah salah satu hal yang dapat
mengurangi rasa lelahku. Cukup jauh kami berjalan kini bukan lagi hamparan
pohon hijau dan dedaunan yang nampak, kini semua berubah menjadi pamandangan
yang sangat tragis, sisa-sisa kebakaran dan ilalang kering yang terlihat,
kebakaran yang terjadi beberapa waktu lalu menghabiskan beberapa hektar lahan
hijau yang ada. Kekeringan dan kemarau panjang menjadi pemicu kebakaran ini,
sungguh sangat di sayangkan, kini keadaan gersang membuat tenaga terkuras
hebat, membuat kami merasa selalu haus. Perjalan kali ini sangat-sangat
membutuhkan tenaga ekstra yang membuuat kami selalu berhenti. Tapi tetap
perjalan masih bisa kami lanjutkan.
Panas sinar matahari makin terasa di
atas kening, jalan mulai berubah lagi, kali ini bukan batu berpasir atau tanah
yang berbentuk tangga dengan batu, melainkan sebuah jalan setapak yang tersusun
oleh batuan sisa lahar yang bentuknya tidak teratur dan posisinya mudah
bergerak. Jalannya yang demikian ini dinamakan ’Watu Telek’ begitu orang-orang
menyebutnya. Setelah melewati watu telek, langkah kaki mulai kami pacu lebih
cepat dari sebelumnya karena waktu tempuh terasa sangat lama.Tak disangka ada
masalah yang kami hadapi, pengis tiba-tiba pingsan karena kelelahan, kami
berusaha menyadarkannya, berbagai cara sudah kami lakukan untuk bangunkannya. ±
5mnt berlalu akhirnya dia dapat disadarkan, kami memutuskan untuk membagi
tugas, Kulad sebagai coordinator peserta membawa 2 karier sekaligus agar pengis
dapat melanjutkan kembali perjalanannya. ± sekitar 1 jam dari watu telek menuju
watu gedhe tempat dimana kami akan bermalam disana. Untuk menuju watu gedhe pun
tak mudah jalan setapak yang sangat menanjak dengan pijakan batu yang dapat
runtuh kalau salah memijakkan kaki dan di sebelah kiri jurang makin menantang
ardenalin kami, namun semua itu dapat terbayar ketika kami sampai di watu gedhe
dan melihat indahnya pemandangan dari atas batu.
Serasa ingin teriak melihat betapa
jauh kami berjalan dan puncak makin di depan mata, tapi kami tak terlalu larut
dengan indahnya alam hijau ini, sebab kami harus bergegas membuat tenda dan
memasak makan malam karena hari sudah hampir gelap. Ketika Kulad mulai ingin
mendirikan tenda tiba-tiba Pengis mengaami kesurupan, penunggu daerah watu
gedhe meberitahukan bahwa tempat yang akan di dirikan tenda kami (peserta)
tidak boleh di lakukan di sebelah situ dan mengarahkan keempat lain, dan
berpamitan sebelum melakuan pendirian tenda. Setelah selesai pengis sadar
kembali, dan kami mulai mengerjaan tugas yang sudah di bagi. Hari mulai gelap
tapi kami belum selesai memasak. Malam ini udara terasa sangat dingin, angin yang
berhembus sangat kencang kami membuat kami harus lebih cepat menyeleasaikan
memasak.Setelah semua selesai kami mulai makan dan segera membereskannya karena
akan melakukan brefing dan evaluasi.
Pukul 19.40 panitia mulai memberikan
arahan-arahan kepada kami dan memberikan tugas melakukan upacara besok pagi di
puncak. Setelah panitia keluar dari tenda kami, kami mulai memikirkan apa
yangharus kami lakukan dan mulai pembagian petugas upacara besok. Tugas sudah
dibagi, kami sudah mempersiapkan semuanya, laporan perjalanan juga sudah
selesai kami kerjakan dan kini waktunya untuk beristirahat, sebab tepat pukul
00.00 nanti kami akan memulai pendakian. Rasa hati sudah tak sabar menunggu
pagi, semua mulai berkemas, bahkan Luced juga sudah menyiapkan stelan fashion
pendakian terhebohnya, dengan kepangan rambut yang aku bantu dan kupluk pink
sebagai pemanisnya.
Pukul 23.20 panitia membangunkan
kami, menyuruh kami untuk bersiap-siap, rasa senang sudah tak bisa dibendung
lagi, yee muncak…muncak itu yang kami terikkan dalam hati. Persiapan sudah
siap, tak lupa berdoa sebelum berangkat agar semua diberikan kelancaran.
Perjalanan pertama mendaki Gunung di malam hari dengan medan yang sangat
menantang dan berat, sejauh ini tanah berbatu dan berpasir menjadi trakking
pertama. Dinginnya malam kali ini menusuk hingga ke tulang. Setelah cukup lama
kami berjalan rasanya dingin tidak lagi kami rasakan, semua berganti dengan
rasa panas dan gerah karna perjalanan sangat berat, meski langit terlihat
menakutkan, dikanan kiri terasa lembab keadaan makin mencekam ketika salah satu
saudara kami (pengis) pingsan lagi karena kelelahan. Suasana nampak terlihat
aneh kala itu, aku merasa sedikit takut dengan keadaan alam dan keadaan yang
pengis alami, sesekali aku berdoa sambil membantu teman-teman menyadarkannya.
Cukup lama kami berhenti dan berfikir tentang kelanjutan pemuncakan, setelah
ketum memutuskan kami semua untuk turun, akhirnya kami bergegas untuk turun,
meski pengis dalam keadaan masih tidak sadar. Upaya yang kami lakukan untuk
membawaya turun dengan menggendong dirasa tidak efektif karna kakinya sudah
kaku dan tak bisa bergerak, sehingga kami putuskan untuk berhenti dan mencari
beberapa pohon yang mampu untuk di buatkan tandu.
Awalnya kami tak punya nyali untuk
mengambil beberapa pohon, namun mau bagaimana lagi jalan menuju kebawah masih
sangat jauh dan curam, akhirnya hanya tum Ramok yang mau mengambil meski
sedikit terlihat takut, dan penunggunya melarang untuk menebang pohon. Semua
sudah siap tandu selesai dan kini pengis bisa dibawa dengan tandu oleh Kulad,
Longer, Ngetter dan Tukul. Melihat kejadan ini kami sedikit kecewa karena tidak
bisa melanjutkan perjalanan hingga puncak, tapi jikalau dilanjutkan tidak akan
efektif. Dua jam perjalan terhitung mulai dari kita naik sampai kembali lagi ke
camp. Sekitar pukul 02.00 kami sampai di camp, perawatan lanjutan sudah
diberikan. Semua panitia kini mulai memasuki tenda dan beristirahat, sedang aku
dan teman-temanku masih mempersiapkan untuk kegiatan besok. Semua berbincang
hingga lelah, dan aku masih sibuk dengan perutku yang tidak pernah bisa buang
air kecil sembarangan di hutan, cukup lama aku menunggu dan bersabar namun
tetap aku tidak bisa. Dan sampai akhirnya aku berada di titik jenuh, hingga aku
putuskan untuk tidur.
Sabtu, 31 Oktober 2015
Matahari mulai nampak kami lekas
bangun, dan mempersiapkan kegiatan upacara, setelah upacara selesai kami
bersiap untuk kegiatan selanjutnya yaitu Navrad, kami yang terbagi menjadi 2
kelompok kecil, kelompok pertama aku (Suwek, Kulad dan Luced) sedang Kulad dan
Pengis kelompok 2. Posisi pertama kami menembak di atas watu gedhe, kemudian di
atas bukit. Kegiatan Navrad selesai hingga pukul 09.00 dan kami bergegas untuk
packing dan memasak sebagian. Semua selesai kami bersiap untuk turun hari ini,
seusai berfoto bersama dan berdoa, kami kedatang tamu dari UMJ yang juga akan
melakukan kegiatan disini. Mereka mendirikan tenda cukup jauh dari tempat kami,
masih bisa terlihat karena letaknya dekat dengan jalan yang akan kami lewati
nanti.
Pukul 10.10 kami turun dari watu
gedhe aku yang berdiri di barisan paling depan berjalan dengan hati-hati dan
mempercepat langkah sembari menikmati alam dan Gunung lemongan dari kejauhan.
Panas terik makin terasa, matahari makin naik dan rasanya ada di atas kening,
sesekali teman-teman berhenti namun aku hanya memelankan langkahku, karna aku
tau semakin kita sering berhenti rasa lelah akan terus bertambah dan tampak
kaki makin panas. Sisa-sisa ilalang yang terbakar dan tanah yang gersang
semakin membuat keadaan tidak bersahabat, ditambah lagi sepatu baruku yang
tiba-tiba sedikit demi sedikit robek.
Waktu tempuh sekitar 2 jam akhirnya
kita sampai di pesanggrahan Mbah Citro, semua menghela nafas dan beristirahat,
sepatuku juga nampak beristirahat karna kini sudah menjadi dua bagian semua,
betapa mengesankan perjalanan ini. Kami yang beristirahat di luar pesanggrahan
Mbah Citro mulai meregangkan kaki dan berbincang-bincang, tapi sebelum duduk
aku dan Luced memutuskan untuk membeli es yang berada di dalam pesanggrahan,
karena kami merasa sangat haus waktu itu, jadi kami memutuskan untukmembelinya,
sembari menunggu es yang disugukan kami sedikit melakukan Ansos-Komsos kepada
ibu penjual es itu. Alhasil kami mendapatkan info yang bermanfaat, setelah es
sudah selesai dibuat dan sudah kami bayar, kami kembali ke tempat teman-teman
beristirahat. Kini rasa dahaga telah hilang, breafing dan efaluasi kami
lakukan. Di situ mas.Kelly memberitahu kesalahan kami yang kurang memperhatikan
lingkungan sekitar, akhirnya kami terkena hukuman turun satu set. Kamipun mulai
mengambil posisi, setelah selesai menjalankan hukuman itu kami melanjutkan
untuk Ansos-Komsos di dalam pesanggrahan Mbah Citro, kami memberanikan diri
masuk kedalam rumah dan meminta ijin untuk bisa bertanya tentang sejarah Gunung
Lemongan ini. Akhirnya kami bertemu dengan salah satu penghuni rumah itu, niat
baik kami yang ingin mendapatkan informasi ternyarta tidak bisa dilakukan
karena bapaknya sedang sibuk mendekorasi rumahnya, tapi kami tidak kecewa
karena beliau mau meminjami kami buku sejarahnya. Buku sejarah sudah ditangan,
penggandaan kami lakukan dengan cara memotret isi dari tiap-tiap halaman hingga
selesai, setelah selesai aku dan Kulad mengantarkan buku itu kembali dan
mengucapkan terimakasih.
Beberapa menit kemudian kami mulai
bersiap dan menggendong carier kami masing-masing, dan tak lupa kami
mengabadikan momen kebersamaan ini. Kini langkah kaki mulai terasa berat, dan
aku ada dibarisan belakang hanya beralaskan sandal jepit. Perlahan tapi pasti
turun dari tempat Mbah Citro menuju pemukiman warga. Bebanku makin berat karna
kulad menitipkan koper yang berisi kompor kepadaku, aku hanya tersenyum dan
membawanya, aku kasian karna dari kemarin dia yang membawanya. Akhirnya setelah
berjalan cukup lama kami sampai dirumah pak Kasim (rumah pak kampong) tempat
kami menitipkan kendaraan. Disini kami mulai merebahkan badan kami yang sudah
sangat lelah sekali. Pemulihan tenaga kami lakukan karna kegiatan Ansos-Komsos
akan dilakukan disini. Dirasa lelah sudah cukup berkurang kami mulai menemui
pak Kasun (ayah pak Kampung), kami menanyakan beberapa poin-poin penting yang
dapat membantu, pak kasim terlihat bersemangat saat menerangkan pada kami,
namun sayang hanya aku yang tidak begitu paham akan ceritanya, sebab belau menggunakan
bahasa Madura yang tidak begitu aku mengerti dengan intonasi yang sangat cepat.
Kini hujan turun lebat, ketika kami
asik berbincang dengan pak Kasim nampak mobil berwarna merah menghampiri,
ternyata ada tamu dari luar kota, kedatangan tamu-tamu ini juga akan muncak
Gunung Lemongan tapi mereka akan berkegiatan dalam acara penanaman pohon yang
akan di lakukan pada tanggal 14-15 November 2015 ini yang dihadiri oleh para
OPA yang tergabung dalam kegiatan Laskar Hijau. Sekitar 10 menit setelah setelah
meraka masuk dan berbicara dengan pak kampong, kami putuskan untuk kembali.
Ansos-Komsos selesai kami bergegas untuk membersihkan diri masing-masing karena
kami akan pulang. Mandi selesai aku dan Luced mengenakan baju dengan rambut
terurai karna rambut kami basa setelah di cuci. Kamipun berpamitan setelah
menaikkan semua barang ke dalam mobil, kini
aku dapat kembali pulang keperadabanku ujarku”hehe…karna rasa lelah dan
kantuk ini sudah tak bisa di bendung lagi. Kuposisikan tempat duduk senyaman
mungkin, dan kurebahkan kepalaku di pundak Kulad, ooogh…betapa nyamannya
posisiku yang selalu ada di tengah. Tak lama Luced menggangguku dan mengajak
berfoto bersama, akupun dengan sigap meladeninya. Foto-foto berlangsung cukup
lama, hingga sampai di Kodim Lumajang pun
kami juga mengambil gambar bersama.
Setelah itu aku pikir kami akan
langsung pulang, ternyata tidak rombongan kami pergi kerumah Mbak Encok yang
rumahnya tidak begitu jauh dari tempat kami barusan. Kata mas Ramok sih kita
mampir kesana untuk jalan-jalan menikmati indahnya lumajang di malam minggu.
Jalannya berputar-putar membuat aku tak bisa menghafal jalnnya, dan akhirnya
sampai juga gang kecil dengan padat rumah, membuat kami harus memarkirkan
kendaraan di pinggi jalan. Ketika di persilahkan masuk dengan sigap aku mencari
posisi yang pas untuk beristirahat, akhirnya mbak Encok menyuruhku tidur di
kamar tengah, tak terasa aku tidur cukup lelap, sampai-sampai aku dibangunkan
untuk makan malam. Hehehehehe…. Betapa enaknya aku bangun tidur langsung disuguhi
makanan. Makan sepiring berdua sama Luced karna aku tidak kebagian piring, tapi
makan tetep nikmat kok, makasih yaa temen-temen yang udah masakin. Makan
selesai dan aku hanya membantu menata piring basah yang sudah di cuci. Malam
makin larut jam menunjukkan pukul 21.00 sebagian ada yang melanjutkan tidur dan
sebagian bercengkrama bersama termasuk aku. Kami berencana untuk pergi
jalan-jalan bersama, dan akhirnya kami pergi setelah memasukkan motor kedalam
rumah.
Kurang lebih pukul 21.30 kami
berangkang menuju gelapnya malam entah kemana arahnya aku masih tidak tau. Sementara itu sebagian
teman-teman kami yang tidur di tinggal di rumah. Cukup jauh kita berjalan
kearah barat, nampak pepohonan besar dan jalan gelap yang dilewati, sungguh
mengejutkan kami berada di jalur menuju Puncak B29, waah…bertapa senagnya aku
melihat plang bertuliskan B29, ujarku tak muncak Lemongan tak apa lah karna
akan terobati dengan Puncak lemongan, betapa riang gembira hati kami semua. Tak
sabar rasanya ingin leakas sampai, namun sayang beberapa menit kemudian ketika
kita akan melewati tanjakan terakhir tiba-tiba saja Toreto (mobil yang
dikemudikan mas Kelly) mengalami sedikit masalah, Toreto berhenti tepat di
depan kami, menarik gas sangat kuat dan mengeluarkan asap… Toreto nampak
kewalahan menaiki tanjakan, akhirnya kami putuskan untuk berputar arah, kembali
kebawah dan nongkrong disana (di depan Pure). Yaah… satu lagi kegagalan yang
mengecewakan, gak Muncak Lemongan gak Muncak B29 pula…nasib…nasib
Akhirnya kami turun meski sedikit
kecewa, kini ngopi sambil nonton bola jadi alternative trakhir. Karna parkiran
kami cukup jauh dari tempat nongkrong kamipun harus berjalan kani lagi naik
keatas, ini mah limit keberapa meski badan terasa lelah dan pegal-pegal ketika
berjalan. Duduk dan mulai memean tahu krispi, kopi hitam, dan soda gembira
menjadi teman nongkrong kami malam ini. Tepat di depan kami berdiri Pure besar yang
sangat kokoh, Pure ini adalah pure terbesar yang menjadi tempat persembahyangan
agama hindu, kalau di samakan sih tempat ini seperti kalau di agama islam
adalah tempat ibadah hanji, jadi kalau untuk agama hindu naik hajinya gak
jauh-jauh yaa cuma di sini daerah Lumajang. Satu lagi pengetahuan baru yang
bermanfaat bagi kita kan, ternyata nongkrongnya jga sambil belajar.
Sudah malam kami kembali kerumah
mbak Encok untuk beristirahat, akupun langsung mengambil bantal dan tidur
sampai pagi. Pukul 05.30 aku bagun dan
merapikan diri, setelah itu kami semua sarapan pagi, rencana pulang sudah batal
karna mas Kelly bangun kesiangan hingga kita putuskan untuk pergi jalan-jalan
lagi. Setelah menampung beberapa saran kami putuskan untuk pergi ke pemandian
selo kambang. Pukul 09.45 kami berngkat, jarak dari rumah mbak Encok ketempat
wisata cukup dekat hanya berkisar 15-20 mnt saja. Kamipun menikmati keseruan
ditempat wisata ini meski tidak ada satupun dari kami yang terjun untuk
menikmati dinginnya air kolam yang bersumber langsung dari air pegunungan. Kita
semua hanya jadi penonton dan komentator orang-orang yang ada disana, hanya bercengkrama
dan menikmati makanan saja. Serasa cukup lelah kamipun kembali kerumah mbak
encok, seperti biasa tidur jadi kegiatan wajib rasanya ketika sampai di rumah
mbak encok, kami tidur untuk memulihkan tenaga karna pukul 15.00 nanti kami
akan kembali ke Jember.
Karier sudah dinaikkan, kini
waktunya berpamitan dan mengucap banyak terimakasih, tepat pukul 15.05 kami
pulang menuju kampong halaman. Memulai menata tempat yang nyaman aku mulai
tidur perlahan, kini waktu tempuh cukup lama karena kita berkendara sangat
santai sampai akhirnya kita sampai di Kampus IKIP PGRI Jember pukul 17.12
waktunya menurunkan karier dari dalam mobil. dan menatanya di secret, namun aku
langsung pulang saja karena hari ini bertepatan dengan 40 harinya nenekku. Aku
dan Luced pulang, dia ikut bersamaku pulang kerumah.
“sedikit
cerita perjalanan pertama saya mendaki gunung lemongan bersama teman-teman
HIMACITA IKIP PGRI Jember yang tidak pernah terduga sebelumnya”.
Terimakasih…
Oleh Risqiatul Laila Safitri
Komentar
Posting Komentar